Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Februari 2016

Nelayan Ngerenehan

Pantai Ngerenehan dari atas. doc: Ardian

Pantai Ngerenehan merupakan satu dari sekian banyak pantai yang ada di kebupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Terletak di desa Kanigoro, kecamatan Saptosari yang berjarak sekitar 30 Km dari kota Wonosari, pantai ini menawarkan pemandangan yang berbeda dari pantai lainnya di Gunung Kidul. Pantai Ngerenehan bisa dikatakan berupa teluk yang berbentuk seperti lingkaran dengan dikelilingi tebing kapur di kanan kirinya. Deburan ombak yang pecah menghantam tebing karang menambah eksotisme tempat ini. Biru laut yang tenang dan hamparan pasir putih memberikan pengalaman yang berbeda bagi siapa saja yang mengunjungi tempat ini.

Hal yang berbeda dari pantai lainnya ialah wisatawan yang berkunjung ke pantai Ngerenehan dapat menyaksikan beragam aktivitas para nelayan. Ketika pagi hari satu persatu nelayan mulai merapat ke bibir pantai untuk menjual hasil tangkapan mereka di tempat pelelangan ikan yang ada di pantai Ngerenehan. Salah satu hal yang menarik adalah budaya gotong royong yang masih dipertahankan oleh seluruh nelayan di tempat ini. Hal tersebut terlihat ketika perahu telah merapat ke tepi pantai, dengan bahu-membahu para nelayan mengangkat perahu tersebut ke daratan dan di susun dengan rapi. Tujuannya agar perahu mereka tidak terseret ombak ketika air laut pasang sekaligus mempererat tali persaudaraan satu sama lain.

Tidak hanya melihat aktivitas nelayan, para wisatawan yang berkunjung ke pantai Ngerenehan juga dapat menikmati hidangan laut hasil tangkapan para nelayan di rumah makan yang banyak tersedia di sekitar tempat ini.



Beberapa perahu bersiap menepi. (doc. Ardianto)

Bersiap merapat (doc. ardianto)

Bahu-membahu mengangkat perahu ke daratan (doc. ardianto)

Gotongroyong mempererat persaudaraan (doc. ardianto)

Membawa hasil tangkapan (doc. ardianto)

membawa hasil tangkapan (doc.ardianto)

menuju tempat pelelangan ikan (doc. ardianto)

Tempat pelelangan ikan (doc. ardianto)


Jumat, 31 Juli 2015

Untuk Sahabat Alam yang Telah Abadi

lelah tak lagi terasa ketika di puncak kita bersama
peluh tak lagi basah, hanya kehangatan yang tersisa
kini kau telah menyatu dengan angin,
membelai lembut menyeka air mata yang dingin
kau telah bersanding dengan fajar yang selalu kita kejar
kaulah senja yang menghias elok diujung langit-Nya
aku tersenyum sepeti dulu kita bersama
menatap langit biru di puncak yang sama

menyatulah bersama alam, wahai sahabatku
terbanglah bersama kehangatan mentari

untuk para sahabat alam yang telah abadi
doa kami untukmu





Kamis, 02 April 2015

#CatatanHalbar 16 : Refleksi Gamalama



Upacara memperingati hari Kebangkitan Nasional thn 2014 di puncak Gamalama
dok. Ardian

Langit yang sejak pagi terlihat cerah, perlahan mulai tertutup awan mendung. Tepat tengah hari, ribuan titik air jatuh di atas tanah Ternate. Itu tandanya kami harus menunda pendakian kami ke gunung Gamalama siang ini. Namun, sembari menunggu hujan reda, juru kunci gunung Gamalama yang juga pengurus kesultanan Ternate mengajak kami untuk berdoa bersama sebelum melaksanakan pendakian. Seluruh air yang kami bawa digabung menjadi satu di dalam sebuah ember besar untuk diberi doa. Kemudian masing-masing dari kami harus membawa minimal satu botol. Sembari menunggu hujan yang semakin deras, juru kunci gunung Gamalama yang aku lupa namanya itu mengingatkan kami tentang aturan dan pantangan yang harus ditaati ketika mendaki gunung ini.

“Gunung ini dijaga oleh ratusan prajurit gaib berbaju putih. Mereka ada di hampir seluruh tempat di gunung ini. Sebagai orang yang beriman bukankah kita wajib mempercayai dengan hal-hal gaib?” ujar juru kunci tersebut. “Nanti ketika sudah sampai di pos 4,  kalian harus adzan, satu orang saja yang adzan,” lanjutnya. Sang juru kunci juga bercerita tentang salah seorang artis yang dulu pernah naik ke gunung Gamalama dan bertemu dengan sesosok orang tua dengan bersorban layaknya seorang kiai. Dorce Gamalama nama artis tersebut. Kata Gamalama di belakang namanya apakah terinspirasi dari gunung Gamalama Ternate yang pernah ia daki, atau ada alasan lain, saya kurang paham.

Hujan menyisakan bulir-bulir air pada daun-daun cengkeh dan pala. Udara dingin pegunungan semakin terasa di akhir hujan seperti ini. Kami berbaris membentuk dua banjar. Juru kunci tersebut melafadkan doa sembari berkeliling memutari barisan kami. Kami hanya menurut saja apa yang dianjurkan juru kunci tersebut. Tidak ada yang menolak, meski dalam hati ada yang menentang. Ini adalah bagian dari budaya lokal yang wajib bagi kami hormati, terlebih kami adalah pendatang.


Selain dari tim Ekspedisi NKRI subkorwil Ternate, beberapa personil dari menwa STAIN Tenate. Serma Dwi dan salah seorang anggota Menwa mundur di awal pendakian karena fisik yang tidak mendukung. Serma Dwi merasa sudah tidak sanggup untuk mendaki, sedangkan salah seorang anggota menwa tersebut diminta mundur karena sakit. Ya, memang lebih baik tidak memaksakan diri untuk mendaki gunung jika kodisi fisik tidak memungkinkan, karena berisiko besar jika tetap dipaksakan.

Ritual pembacaan doa oleh juru kunci gunung Gamalama
dok. Ardian

Sebelum berangkat, juru kunci kembali membacakan doa sembari mengelilingi barisan rombongan
dok. Ardian


Aku mengeluarkan kamera poket, mendokumentasikan beberapa foto selama perjalanan. Di pemandangan yang digambarkan dalam lagu anak-anak “Naik ke puncak gunung” itu tidak berlaku di gunung Gamalama ini. Jika di lagu itu digambarkan bahwa selama pendakian ke puncak gunung yang tinggi, hanya ada pepohonan cemara di kiri kanannya. Tetapi di sini, sebagian besar adalah pohon cengkeh dan pala, dan nyaris tidak ada pohon cemara.

Bisa dibilang pendakian ini adalah pendakian yang panjang dan pendakian yang tidak direkomendasikan. Pertama, jumlah yang besar tidak dibagi menjadi beberapa tim kecil agar lebih efisien. Jumlah kami ketika itu mungkin lebih dari 20 orang. Kedua, minimnya persiapan. Kami hanya membawa bivak dan tenda perorangan yang biasa digunakan tentara. Bahkan anggota menwa hanya membawa terpal biru berukuran lebar tanpa tiang. Selain itu, hanya sedikit orang yang membawa senter, padahal kami mengalami perjalanan hingga jam 10 malam. Mungkin karena mereka personil tentara yang terbiasa dengan kondisi darurat dan perlengkapan seadanya. Semoga tidak ada yang mencontoh cara kami mendaki kali ini.

Hujan kembali turun, tidak deras memang, hanya gerimis. Tetapi justru itu yang membuat pendakian bertambah berat karena jalanan semakin licin. Ketika reda, kami beristirahat sejenak sembari membuka nasi bungkus yang kami bawa sejak dari bawah tadi, mumpung belum terlalu gelap. Mendekati pos empat, kami berhenti lagi. Warga setempat yang menjadi guide kami turun ke mata air bersama beberapa orang untuk mengambil persediaan air. Kemudian ketika sampai di pos empat, semua berhenti dan berbaris. Semua senter dimatikan. Di tengah keheningan malam dan dinginnya udara gunung Gamalama setelah hujan, guide kami menyerukan kalimat adzan sebagai simbol sekaligus permohonan izin kepada makhluk gaib yang menjaga tempat ini bahwa kami datang dengan niat baik, dan semoga disambut dengan baik pula. Sebagaimana pesan juru kunci gunung Gamalama ketika kami hendak berangkat tadi.

Sekitar pukul 10 malam akhirnya kami sampai di puncak. Kurang lebih delapan jam lamanya pendakian yang kami lalui. Hujan sudah reda, bahkan rembulan tampak menyinari malam kami di puncak Gamalama. Udara dingin langsung menusuk. Kami langsung mencari tempat masing-masing untuk membuat bivak. Tiba-tiba langit yang sedari tadi terlihat sudah cerah, tiba-tiba hujan. Kami segera menyelesaikan bivak masing-masing. Selesai memasak pasak terakhir, sekilas sosok wanita dengan tersenyum manis di samping Darumas. Yah, hanya sekilas. Aku pun tidak terlalu fokus karena hujan mulai menderas, kami ingin segera bertedu di balik bivak. Meski bivak sudah selesai aku dan bang Heriyana belum bisa masuk ke dalam karena Darumas masih ganti pakaian di dalam. Wajar cewek, sedikit agak lama. Tapi aku salut dengan Darumas, tidak banyak cewek bisa betah dalam kondisi serba terbatas seperti ini. Meski kami tetap menghargai dan memberi hak khusus sebagaimana cewek, tetapi dia juga cukup mengerti dengan tidak menambah ribet yang biasa dilakukan cewek.

Karena kondisi bivak yang tidak terlalu tinggi, ditambah hujan membuat bivak semakin pendek. Akhirnya kami hanya bisa tiduran di dalam bivak sambil makan roti T2, ransum tentara. Lumayan juga buat mengganjal lapar di tengah hujan di puncak Gamalama ini. Ada hal unik yang terjadi ketika kami membuat bivak tadi. Karena minimnya persiapan, tidak membawa dan juga ada pohon yang bisa dijadikan pasak, alhasil sebatang bambu yang kami bawa dari bawah dipotong sejengkal untuk pasak. Masing-masing orang memotong sejengkal untuk pasak. Padahal bambu itu untuk tiang bendera upacara hari Kebangkitan Nasional besok.

Keesokan subuh aku terbangun. Meski musim hujan, pemandangan sunrise dari puncak Gamalama sungguh membuatku berdecak kagum. Ini pengalaman pertamaku berada di puncak sebuah pulau. Gugusan nusa terlihat seperti benda kecil mengapung di atas laut yang teramat luas. Riak awan dengan latar biru langit terlihat menawan ketika dipadu dengan warna keemasan mentari terbit. Ini pemandangan yang sangat luar biasa bagiku, dan aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk menyaksikan pemandangan ini.

Sunrise di puncak Gamalama_1
dok. Ardian

Sunrise di puncak Gamalam_2
dok. Ardian

Matahari terbit seperti terbenam
dok. Ardian

Upacara memperingati hari kebangkitan nasional berjalan hikmat dan lancar. Aku tidak tau harus mendeskripsikan seperti apa momen upacara kebangkitan nasional kali ini. Yang jelas, pengadaan upacara di puncak gunung Gamalama kami anggap sebagai wujud perjuangan untuk membangkitkan semangat pemuda Indonesia menjadi negara yang semakin berjaya. Mungkin ini pemahaman gagalku terhadap momen kebangkinan nasional. Maaf.

***

Aku, bang Heriyana, dan Darumas memilih untuk terakhir turun. Sebagian besar rombongan berjalan lebih dulu. Kami bertiga ingin mencari beberapa spesies flora fauna yang mungkin bisa kami ambil sebagai data temuan flora fauna di kaki Gamalama. Namun, karena sudah terlalu lelah, kami memutuskan untuk berjalan pulang saja. Aku berjalan duluan di depan Darumas dan bang Heriyana. Ketika jarak kami agak jauh, aku duduk dan menunggu mereka. Hingga suatu ketika, kami terpisah agak jauh. Aku merasa tidak terlalu jauh berjalan, mungkin mereka yang terlalu lama beristirahat.
Hampir setengah jam aku menunggu di bawah sebuah pohon besar. Aku ingat tempat itu juga tempat dimana kami beristirahat semalam. Aku yakin sudah tidak jauh lagi kami sampai di sebuah rumah panggung. Di depan rumah itu ada sebuah keran air yang biasanya digunakan untuk pendaki yang kehabisan air. Botol aqua 1,5 liter yang kubawa hampir kosong. Kuputuskan untuk terus berjalan sampai ke gubug itu, mungkin tidak sampai setengah jam dengan sedikit berlari bisa sampai di gubug tersebut.

Ternyata dugaanku meleset. Aku sudah berjalan hampir dua jam dan aku belum juga menemukan gubug tersebut. Aku mulai mengingat-ingat jalur yang aku lalui semalam. Ada beberapa tempat yang membuatku tidak begitu yakin apakah kami melewatinya semalam. Tapi sepertinya tidak mungkin jika aku salah jalan, karena tidak ada persimpangan di sepanjang jalan ini. Artinya hanya inilah satu-satunya jalan menuju ke puncak Gamalama. Aku duduk untuk beristirahat sejenak. Ujung jari kakiku juga mulai sedikit sakit karena sepatuku yang rusak. Air yang kubawa juga sudah semakin sedikit. Sekarang aku berada di sendirian di tengah-tengah hutan. Sejenak aku ragu apakah harus terus berjalan atau menunggu bang Heriyana dan Darumas yang entah berjarak berapa meter di belakang. Karena yakin gubug itu sudah semakin dekat, aku memutuskan untuk berjalan.

Di jalanan terjal dan licin aku terjungkal. Bukannya meringis kesakitan, aku justru tertawa senang. Aku berpikir, bersyukur ketika umur sekarang aku merasakan pengalaman luar biasa seperti ini. Mungkin esok ketika tua aku masih bisa melakukan perjalanan yang sama, tetapi kesan, semangat, ambisi yang kurasakan tentunya akan sangat berbeda. Sekarang aku muda, bebas, tanpa beban pekerjaan, keluarga; hanya berpikir untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Beberapa kali aku terjatuh karena terlalu bersemangat meskipun medannya terlalu licin. Semua rasa sakit, lelah, kotor yang berpadu dengan semangat dan ambisi ini akan menjadi cerita yang menarik untuk kelak kukisahkan kepada anak cucuku.

Akhirnya aku menemukan sebuah ladang jagung di tengah hutan. Aku ingat ladang jagung ini, berikut juga dua atau tiga kuburan di tepi jalan setelahnya. Jarakku sudah tidak jauh lagi dari gubug itu. Tetapi baru setengah jam setelahnya baru aku temui gubug tersebut. Aku tidak berhenti, airku masih cukup. Aku ingin segera sampai di basecamp. Melewati gubug, ujung jari kakiku semakin sakit. Akhirnya aku berjalan mundur untuk meminimalisir rasa sakit hingga akhirnya aku tiba di basecamp. Rombongan pertama sudah sedari tadi sampai. Mereka hanya butuh waktu dua jam dari puncak hingga tiba di basecamp. Sedangkan aku hampir empat jam. Dan yang lebih lama adalah bang Heriyana dan Darumas yang baru tiba sekitar pukul enam sore, hampir enam jam lebih perjalanan mereka. Aku di marah karena meninggalkan mereka berdua.

Perjalanan ini memberiku banyak pelajaran yang sangat berharga, seperti juga perjalanan-perjalanan yang pernah aku lalui sebelumnya. Semoga masih ada perjalanan-perjalanan lain di hari depan yang akan aku lalui. Aku selalu siap.



Beberapa dokumentasi selama pendakian Gamalama



Tim Ekspedisi bersama mahasiswa pecinta Alam dan Menwa berfoto bersama
dok. Ardian

Bintara Oprasi Ekspedisi NKRI subkorwil Jailolo memberi instruksi sebelum upacar berlangsung
dok. Ardian

Perwakilan Kopassus (Pratu Dadang), Menwa, dan Paskhas (Pratu Rifki) bertugas sebegai penarik bendera
Dok. Ardian

Hormat bendera
dok. Ardian

Dok. Ardian

Dok. Ardian

Foto bersama seluruh tim
dok. Ardian
Tidur di dalam bivak yang sangat seadanya.
dok. Ardian

Darumas dan bang Heriyana (Serma Kopassus)
dok. Ardian


Minggu, 01 Februari 2015

Air Terjun Teroh-teroh dan Kolam Abadi


Rencana untuk eksplor objek wisata di sekitar Sumatera Utara dimulai dari air terjun Teroh-teroh yang terletak di desa Rumah Galoh, kecamatan Sei Bingei, Langkat Sumatera Utara. Teroh-teroh dalam bahasa Karo artinya bawah. Aku kurang tau makna ‘bawah’ dari air terjun tersebut. Yang jelas, saat ini tempat tersebut menjadi objek wisata pilihan banyak orang di Medan dan sekitarnya. Sewaktu kami ke sana tidak terlalu banyak pengunjung, mungkin karena lokasinya yang jauh dari jalan raya dan akses menuju lokasi yang lumayan jauh sehingga hanya anak-anak muda saja yang berminat mengunjungi tempat tersebut. Memang sih sewaktu kami ke sana nyaris tidak terlihat orangtua dan anak-anak.

Jika ingin mengunjungi Air terjun Teroh-teroh aksesnya cukup mudah, dari medan menempuh jarak menuju Binjai selama satu jam kemudian dilanjut dengan perjalanan lurus menuju desa Rumah Galoh sekitar satu jam. Perjalanannya juga cukup mudah, tidak terlalu banyak persimpangan. Jika sudah sampai di desa Rumah Galoh akan ada banyak pemuda setempat yang menawarkan jasa untuk mengantar hingga sampai ke lokasi. Tinggal terserah anda ingin mengikuti atau jalan sendiri menuju lokasi yang sebenarnya hanya mengikuti jalan saja. Tidak ada angkot yang menuju kesana, jadi disarankan untuk membawa kendaraan sendiri.

Untuk menuju ke lokasi air terjun kita akan diantar oleh guide yang dikelola oleh penduduk setempat dalam bentuk shelter-shelter atau pos-pos guide. Untuk sementara ini mereka masih mengelola secara mandiri dan terpisah antara satu pos dengan pos lainnya. Satu rombongan akan dipimpin 1 atau dua orang guide. Selain menjadi penunjuk jalan, mereka juga akan membawakan barang-barang pribadi anda seperti handphone atau dompet ke dalam plastik.  Sedangkan untuk pakaian, tas, helm, sepatu, dsb bisa dititipkan di pos. Barang-barang yang disimpan di pos akan dicatat dan dijadikan satu di dalam karung.

Jalur traking menuju lokasi air terjun melewati perkebunan karet milik warga. Selain itu, guide akan mengajak kita ke kolam abadi. Tempat ini sebenarnya adalah aliran sungai menuju air terjun teroh-teroh. Airnya yang jernih dan sejuk membuat banyak orang merasa betah berlama-lama berendam di sini. Selain itu, aku sendiri tidak begitu tau kenapa warga sekitar menamakannya kolam abadi, mungkin sebagai salah satu strategi marketing saja.

Itu anak kecil di belakang ngapain ya? horor nih.
Air sungainya sangat jernih dan sejuk. 

Perjalanan selanjutnya menuju air terjun Teroh-teroh dilakukan melalui jalur sungai, itu artinya kita akan diajak body rafting dengan hanya menggunakan jaket pelampung. Saran saya, hati-hati saat melakukan body rafting, selain banyaknya bebatuan besar sehingga memunculkan putaran air dibawahnya, ada banyak pohon-pohon yang tumbang ke bawah sungai. Ranting-ranting pohon ini cukup tajam, jika tidak hati-hati bisa melukai badan dan sangat berbahaya. Para guide akan membantu untuk melewati rintangan-rintangan tersebut.

Aku sedikit kecewa saat kesana tidak membawa kamera waterproof seperti gopro atau semacamnya, karena kita akan menyaksikan banyak pemandangan yang menakjubkan ketika melakukan body rafting. Sayang sekali jika momen tersebut tidak terdokumentasikan. Aku teringat ketika melakukan susur sungai di hutan Gigisoro, Sidangoli, Halmahera Barat bersama bang Irwandi dan temannya pak Demanus (aku lupa namanya). Lokasinya kurang lebih sama; sungai yang masih asri dengan tebing yang menjulang tinggi di kanan kirinya. Jika dibersihkan dari kayu-kayu yang melintang dan menatanya sedemikian rupa, aliran sungai ini bisa dipromosikan sebagai objek wisata rafting.

Teroh-teroh waterfall (sok inggris)


Setengah jam perjalanan menyusuri sungai, tiba lah kita di air terjun teroh-teroh. Agak sulit jika ingin mengabadikan tempat ini secara full, karena lokasinya yang sempit dan banyaknya pengunjung ingin berfoto dengan latar belakang air terjun Teroh-teroh. Sebuh pohon yang melintang di tengahnya bagiku juga cukup mengganggu pemandangan. Tapi yah, inilah air terjun Teroh-teroh yang bisa menjadi salah satu objek wisata pilihan bagi anda yang ingin berkunjung ke kabupaten Langkat, Sumatera Utara. 

Sorry fotonya masih narsis, nanti kalau ada kamera sendiri insyaallah aku fotokan secara full. 





Pendakian Sumbing: Perpisahan The A-Team


The A-Team: Ardian, Imam, Andank, dan Mukhtar

Dua minggu setelah lebaran aku kembali ke Jogja. Selain membereskan beberapa barang yang harus dibawa pulang dan tidak, pertengahan Agustus ini aku, Andank, Imam, dan Mukhtar berencana mendaki gunung Sumbing via Kaliangkrik, Magelang. Awal puasa lalu ketika buka puasa bersama, kami merencanakan pendakian ke Sumbing sebelum masing-masing dari kami sibuk dengan urusan pekerjaan. Bisa dibilang pendakian ini adalah pendakian perpisahan sebelum bulan September nanti Mukhtar ke Palembang untuk bekerja di salah satu perusahaan farmasi, Imam kembali ke Tangerang, dan Aku mungkin bakal kembali ke Medan. Hanya Andank yang masih di Jogja, atau kalau pulang pun hanya di Klaten.

Seminggu sebelum pendakian seperti biasa kami selalu kumpul untuk mendata barang apa saja yang perlu dibawa dan berapa iuran yang diperlukan, terutama untuk membeli bahan makan. Pendakian kali ini uang iuran bakal lebih banyak dipakai untuk logistik karena perlengkapan Andank sudah cukup lengkap, dan tenda bisa sewa di Jatropa Farmasi dengan separuh harga dari tempat penyewaan. Tapi pendakian kali ini tidak ada ceweknya, 6 orang termasuk adiknya Imam dan teman Mukhtar cowok semua. Biasanya ada Liong atau Vava yang sering ikut mendaki bareng kami.  Sekarang mereka berdua lagi KKN. Jadi, ya kami aja, The A-Team.

Ya, The A-Team. Seperti dalam film The A Team yang menceritakan satu Team militer yang dibentuk khusus dari beberapa divisi. Mereka sangat kompak, saling melengkapi, dan mendukung sehingga jarang sekali mereka gagal dalam misi. Begitu juga dengan pendakian, mencapai puncak bersama adalah target kami, tetapi kembali ke rumah masing-masing dengan selamat dan tanpa ada perasaan grundel adalah misi yang harus kami selesaikan bersama.  Tidak mudah mencari teman mendaki yang pas. Lelah dan berat yang ditanggung ditambah haus akan membongkar pertahanan sikap yang selama ini ditahan. Ketika itulah setiap orang akan menunjukkan sikap dan sifat alaminya.
Dalam setiap tim pendaki, pasti ada satu atau dua orang yang menyebalkan. Itu wajar. Di saat orang menunjukkan sikap atau sifat alaminya, di sisi lain kita pun kehilangan sikap memaklumi yang tidak jarang mengundang emosi, walaupun kebanyakan hanya dipendam dan memunculkan grundelan pasca pendakian. Kemudian pendakian selanjutnya akan mencari orang lain untuk diajak mendaki.

Umumnya sih begitu, tapi kasus seperti itu mungkin tidak semua orang mengalami. Yang jelas, mendapat teman seperjalanan menuju puncak yang asyik itu kenikmatan yang luar biasa sekali.
Perjalanan menuju desa Kaliangkrik, Magelang tidak bisa dibilang mudah lebih lagi ketika malam hari seperti ini. Meski jalanan sebagian besar sudah aspal hitam, tapi tanjakan yang cukup terjal memaksa kami untuk jalan kaki karena motor kami tidak kuat jika berboncengan. Jalanan sempit berbatu dan menanjak ditambah udara dingin menanti ketika mendekati dusun Butuh, desa Kaliangkrik, Magelang. Dusun Butuh merupakan dusun terakhir sekaligus tertinggi di desa Kaliangkrik. Kepala dusun Butuh menyediakan rumahnya sebagai basecamp bagi pendaki yang ingin mendaki gunung Sumbing via Kaliangkrik. Beliau sangat ramah. Walau belum bertemu, tapi aku bisa menebaknya dari banyaknya camilan, kopi sachet, dan dua termos air panas yang sengaja disuguhkan untuk pendaki yang singgah ke rumahnya.

****

sudah tidak ada pohon cemara di kanan kiri jalur menuju puncak gunung, semua berubah menjadi sayur mayur
dok. Andank

Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali...
Kiri kanan kulihat saja banyak sayur-sayuran.....

Mungkin lirik lagu anak-anak itu lebih tepat kalau liriknya seperti itu. Hampir 2 km ke atas desa yang terhampar berhektar-hektar lahan perkebunan sayur milik warga. Hanya sebagian kecil pohon cemara di badan gunung, itu pun dengan ranting-ranting yang sudah gundul. Masyarakat lokal memotong ranting-ranting pohon dan mengambilnya untuk kayu bakar. Pohon yang rantingnya telah gundul lama-kelamaan akan mati dengan sendirinya, baru kemudian batang besar itu ditebang. Mungkin seperti itu cara mereka membuka lahan dan menggunduli secara perlahan. Aku tidak tau, hanya asumsi pribadi tanpa dasar yang kuat. Yang jelas, banyak gunung-gunung di Indonesia yang hutannya telah gundul dan diganti dengan berhektar-hektar lahan sayuran dan buah. Kebanyakan mereka tidak sadar dengan bahaya longsor dan erosi yang bisa terjadi akibat pengalihan hutan menjadi lahan sayur seperti ini. Jika sudah menyangkut soal perut, seakan semua menjadi halal untuk dilakukan. Karena tidak punya solusi yang pas, akhirnya orang lain pun memaklumi.

Jalur Kaliangkrik bagi para pendaki gunung Sumbing belum terlalu terkenal. Sebagian besar menggunakan jalur Kledung jika ingin mendaki Sumbing. Menurut temanku, ada plus minus dari dua jalur ini. Dari segi jarak, jalur Kledung memang lebih pendek namun lebih curam dan harus membawa air ekstra karena tidak ada satupun sumber air. Sedangkan jalur Kaliangkrik lebih panjang karena mengambil jalur memutari punggung gunung. Namun, poin plusnya pendakian terasa ringan sekaligus banyaknya aliran sungai sehingga sedikit meringankan bawaan air. Seperti yang kami lakukan, cukup membawa jerigen kosong dari bawah dan mengisinya ketika tiba di sungai terakhir. Kebetulan sungai terakhir yang paling besar dan posisinya sudah cukup dekat dengan pos pohon tunggal; tempat yang biasanya digunangan untuk mendirikan tenda. Kurang lebih ada 11 aliran sungai, dan yang terbesar alirannya adalah yang terakhir.

Meski memutar, view yang disajikan sepanjang perjalanan juga cukup membuat decak kagum. Hamparan kota Magelang terlihat dengan latar belakang Merapi dan Merbabu yang terlihat gagah. Beberapa kali kami beristirahat lama karena tertegun dengan hembusan angin dan pemandangan yang menakjubkan di depan kami. Bagiku, ini salah satu jalur pendakian dengan pemandangan yang luar biasa. Namun, kami tetap harus selalu waspada dan hati-hati karena kami berjalan di punggung gunung, jika tidak waspada bisa-bisa kami terperosok dan jatuh ke jurang.


cukup ambil foto, cukup tinggalkan jejak, dan cukup membunuh waktu.
dok. Imam
Di sungai terakhir, jerigen yang kami bawa diisi penuh untuk persediaan hingga esok. Sudah lewat tengah hari, matahari masih cukup terik. Andank yang lusa wisuda memakai lotion sun block, agar tetap ganteng sewaktu wisuda katanya. Imam dan Mukhtar juga. Aku mengejek mereka karena ketika foto wajah mereka terlalu putih seperti banci, tapi akhirnya aku harus menanggung perih dan kulit mengelupas di wajah karena terbakar matahari beberapa hari pasca pendakian.

Untuk kesekian kalinya aku merasa heran dengan sikap orang-orang yang menuliskan nama-nama mereka, geng atau apalah di atas batu dan pohon di sekitar jalur pendakian. Hampir semua gunung yang pernah kudaki, pasti menemukan coret-coretan seperti itu, termasuk di bebatuan sungai ini. Apa seperti ini yang dinamakan pecinta alam? Pasti bukan, karena orang yang mencintai tidak akan merusak apa yang ia cintai. Mereka yang melakukan vandalism di gunung pasti hanyalah oknum yang mengaku-aku sebagai pecinta alam, padahal bukan. Mereka hanya ikut-ikutan, kemudian merusak. Sebenarnya tidak ada salahnya ikut-ikutan mendaki gunung, karena aku pun hanya ikut-ikutan, bukan dari organisasi pecinta alam. Namun, tidak peduli dari organisasi pecinta alam atau bukan, usaha menjaga alam harus dilakukan, minimal tidak membuat sampah di gunung, vandalism, dan sebagainya.

Andank lusa wisuda mengabadikan momen kelulusannya di
puncak sumbing, 17 08 2014
Ada sesuatu yang tidak kalah menakjubkan ketika sore hari. Kami sudah tiba di pos pohon tunggal dan tenda sudah berdiri tegak di atas permukaan tanah yang miring. Tidak ada lokasi yang datar di sekitar pos pohon tunggal. Angin bertiup sangat kencang ditambah lokasi terbuka tanpa pepohonan membuat kami sedikit khawatir dengan tenda kami, semoga saja bisa bertahan. Matahari perlahan turun di belakang gunung Sumbing membuat bayangan segitiga raksasa yang jatuh di atas kota Magelang. Semakin sore, bayangan itu semakin bertambah besar hingga ke hingga ke gunung Merbabu dan Merapi. Sayang kami berada di sisi timur Sumbing, mungkin di bagian baratnya senja terlihat sangat menakjubkan. Meski begitu, segitiga raksasa ini adalah pemandangan yang tidak biasa buatku.

Menjelang gelap, angin semakin kencang. Meski sudah windstoper, jaket tebalku tidak mampu menahan udara dingin yang bertiup di sini. Lebih baik masuk ke dalam tenda sembari menikmati kopi hangat bersama yang lain. Tenda kapasitas enam orang yang kami bawa benar-benar pas sekali untuk kami berenam, sampai-sampai kami susah bergerak saking pas-nya. Semua tidur dalam posisi badan lurus laiknya ikan kalengan. Sesekali posisi badan melorot karena permukaan tanah yang tidak rata, sehingga konsentrasi tidur kami terbagi antara tidur dan menahan badan. Yah, bisa kalian bayangkan sendirilah bagaimana nikmatnya tidur di dalam tenda di pos pohon tunggal gunung Sumbing.

Dingin yang menembus kulit membuat kami aras-arasen untuk summit attack keesokan paginya. Padahal hanya beberapa meter lagi, mungkin tidak sampai sejam dengan ritme normal kami sudah sampai di puncak watu lawang. Sumbing memiliki beberapa puncak, watu lawang adalah salah satunya. Dari sisi timur juga terdapat jalan menurun menuju kawah gunung Sumbing. Ada beberapa pendaki yang mendirikan tenda dan bermalam di bawah. Mungkin di bawah angin tidak terlalu kencang karena terhalang dinding kaldera Sumbing.

Meski hari ini adalah 17 agustus, tapi kurang dari 10 rombongan pendaki yang naik ke Sumbing menggunakan jalur Kaliangkrik. Mungkin lebih banyak pendaki melalui jalur Kledung. Saat ini mendaki gunung sudah menjadi lifestyle banyak mahasiswa, terlebih lagi pada 17 agustus seperti ini. Gunung Merapi, Merbabu, Prau di Wonosobo, Lawu di Karanganyar penuh dengan pendaki-pendaki yang ingin memperingati hari kemerdekaan di puncak gunung. Begitu juga dengan gunung-gunung lain di Indonesia. Namun sayang, sebagian besar dari mereka hanya ikut-ikutan tanpa dibarengi pengetahuan dan kesadaran tentang kecintaan terhadap alam sehingga pasca pendakian masal memperingati hari kemerdekaan didapati ratusan sampah di sepanjang jalur pendakian hingga puncak. Bahkan ketika sampai di rumah keesokan harinya aku membaca berita bahwa terjadi kebakaran di antara pos 4 dan 5 pendakian gunung Lawu. Penyebabnya sudah pasti akibat pendaki yang teledor membakar sampah dan ditinggal tidur sehingga api menyebar menyambar ranting-ranting kering. Selama beberapa hari puluhan pendaki terjebak di atas gunung (sumber).

Sudah banyak himbauan dan kritik agar tidak menjadikan gunung sebagai tempat sampah. Banyak yang menanggapi, namun lebih banyak lagi yang masa bodo dan tetap mengotori gunung dengan beragam sampah yang ia bawa. Banyak orang yang menganggap demam mendaki gunung dimulai pasca boomingnya film 5 cm  yang menceritakan sekelompok anak muda kota yang mengadakan reuni di gunung Semeru. Sejak saat itu, gunung Semeru tidak ada habis-habisnya dikunjungi banyak pendaki pemula yang hanya bermodal ransel, jaket baseball, sepatu kets dan mie instan sebagai logistik utama. Mereka mengganggap mendaki gunung sama seperti pergi ke pantai. Mereka tidak peduli dengan faktor keselamatan yang sangat penting untuk diperhatikan ketika mendaki gunung. Kegiatan mendaki gunung termasuk olahraga ekstrem, ada banyak hal yang perlu diperhatikan untuk meminimalisir keselamatan. Selain perlengkapan, skill, rencana, dan pengetahuan juga menjadi faktor yang harus diperhatikan nyaman selama pendakian.

Tengah hari kami turun dengan santai. Di pos dua kami berhenti untuk makan siang. Logistik kami masih melimpah karena semalam cuaca terlalu dingin sehingga kami memutuskan untuk tidur saja. Beberapa butir telur dan beras kami berikan kepada sekelompokk pendaki yang kebetulan juga istirahat di pos 2. Salah satu hal yang paling menyenangkan dari kegiatan pendakian adalah rasa persaudaraan antar sesama pendaki. Tidak perlu makanan mewah, segelas kopi hangat dinikmati bersama sudah sangat berarti sebagai pengikat persaudaraan.

Dan, akhirnya, pendakian pun diakhiri dengan makan malam bersama tongseng kambing di jalan Muntilan. Semoga masih ada kesempatan untuk mendaki bersama di gunung Kerinci beberapa tahun lagi.


Beberapa momen yang sempat terabadikan selama pendakian Sumbing


Jalur pendakian yang menyusuri punggung gunung Sumbing
dok. Andank

Jalur pendakian
dok. Andank

Puncak dan kaldera Sumbing
dok. Ardian

Kaldera Sumbing
dok. Ardian

Istirahat di tengah perjalanan sembari menikmati pemandangan Merapi merbabu
dok. Ardian

Menyiapkan air untuk bekal di atas
dok. Ardian

Bayangan Sumbing ketika sore
dok. Ardian

golden Sunrise
dok. Ardian

Golden sunrise
dok. Ardian

Golden Sunrise
dok. Ardian

Pakai sunblock untuk persiapan wisuda
dok. ardian

Tanaman sayur di kanan kiri jalur pendakian menuju Sumbing
dok. Andank

Golden Sunrise di pos Pohon Tunggal
dok. Ardian

Ini foto yang paling aku suka.
dok. temennya Mukhtar. 


Rabu, 28 Januari 2015

#CatatanHalbar 15 : Tangan Siapa yang Meraba Kita Semalam?

Ah, sial. Doaku tidak dikabulkan. Masih asyik-asyiknya bersantai di atas batu cadas besar di bawah pohon pala, bulir-bulir hujan datang membawa rombongannya. Darumas, Dadang dan Ode yang tadi berkeliling di sekitar hutan mencari temuan berlari langsung masuk ke tenda – sebenarnya lebih cocok dikatakn bivak – yang kami buat. Barang-barang sudah dimasukkan ke dalam tenda. Hujan turun cukup deras. Sepuluh menit pertama aku, bang Heriyana dan Darumas masih terpaku di bawah bivak sambil berharap hujan segera mereda. Hening. Hanya suara tetesan air yang menghantam bagian atas bivak dan genangan air yang mengisi suara. Air mulai menggenang masuk ke dalam bivak. Aku sigap membenahi mantol hujan yang kami jadikan alas untuk tas dan barang bawaan lainnya di dalam bivak agar tidak basah. Semakin lama genangan air semakin meninggi. Aku yang semula duduk, sekarang jongkok di atas matras yang kujaga sisi kanan kirinya agar air tidak masuk menggenangi matras. Bang Heriyana menjaga bagian atas bivak yang mulai mengendur ikatannya. Darumas duduk di atas tumpukan tas yang dibungkus dengan mantol.

Kemudian Dadang masuk ke bivak kami.

“Bang, gimana kalau kita pindah aja. Tadi aku liat ada gubuk warga yang lumayan besar,” kata 

Dadang yang masuk hanya memakai celana pendek kolor.

“Oke. Ayok,” ujar bang Heriyana tanpa pikir panjang. Sial, kenapa baru sekarang dia ngomong kalau ada gubug, udah keburu kebanjiran kayak gini, grutuku dalam hati.

Dengan membawa perlengkapan seadanya yang bisa dibawa, kami langsung pindah menuju gubug warga yang dikatakan Dadang. Hujan masih deras. Kami berjalan cepat menyusuri jalan berumput, namun tetap hati-hati ketika melewati genangan air karena permukaan tanah di sini berlumut dan licin. Aku beberapa kali terpeleset, namun alhamdulillah tidak sampai jatuh. Kalau jatuh pasti sudah basah kuyup. Bang Heriyana meneriaki bang Sadox yang sedari tadi belum keluar dari bivak, kemudian keluar dengan tampang bak seorang warga yang mengungsi karena banjir. Aku sempat terkekeh melihat penampilannya saat itu. Bayangkan saja, dia keluar hanya memakai celana renang pendek dengan senjata diselempangkan di dada, satu ransel ia kenakan di belakang, tangan kanannya membawa bungkusan berisi mie instan dan sarden, sedangkan tangan kirinya membawa plastik besar berisi biskuit.
***
Lokasi tempat kami mendirikan tenda yang kehujanan
dok. Ardian
 Hari mulai gelap. Hujan masih turun, walaupun tidak sederas sebelumnya. Sepertinya sampai malam grimis masih akan tetap turun. Suara jangkrik dan serangga hutan lainnya terdengar mengiringi cahaya matahari yang mulai meredup bersama kawanan kodok yang bersenandung di bawah hujan. Kaokan gagak sesekali menimpali. Di banyak tempat, gagak disimbolkan dengan kematian atau musibah. Banyak orang percaya jika terdengar suara burung hitam itu di suatu desa atau di atas rumah, itu berarti desa atau rumah tersebut akan mendapat musibah.

Jika gagak berkaok di tempat keramat seperti ini, mungkin ceritanya bisa lain. Ada sesuatu yang terjadi ketika malam berada di titik menjelang pergantian hari.

Hampir jam sepuluh malam, aku belum bisa tidur. Karena gubug itu tidak terlalu besar, posisi tidur harus diatur agar mencukupi untuk menampung kami berenam. Lima orang tidur sebaris, sedangkan satu orang sisanya, yaitu aku, terpaksa melintang di atas kepala mereka. Dadang, bang Sadox, dan bang Ode yang tadi saling bercerita sudah tidak terdengar lagi suaranya. Darumas dan bang Heriyana sudah terlelap sejak selesai menyanyikan lagu Doa TNI. Gemerisik hujan masih terdengar dari atap gubug, udara dingin semakin menusuk melalui sela-sela sleeping bag yang kupakai. Suara gagak dan binatang malam masih terdengar mengisi kekosongan malam. Aku menarik bagian atas sleeping bag menutupi bagian wajahku dan memaksa mataku untuk terpejam.

Aku belum sepenuhnya terlelap ketika tiba-tiba bang Sadox berteriak kencang sekali.

“Aaaaaaaarrrrrrrrrrrrgggghhhhh!!!!!”

Sontak kami semua kaget dan langsung terbangun.

“Dox, kenapa kamu?” tanya Dadang yang ada di sebelahnya.

Bang Sadox tidak langsung menjawab. Bang Ode menimpali dengan pertanyaan yang sama.

“Tidak apa-apa,” katanya sesaat kemudian.

Aku melirik jam di tanganku. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Bang Heriyana mungkin melihat jam juga. Kemudian dia berkata, “Udah, udah. Tidur lagi. Masih malem,” perintahnya. Nada suaranya berbeda.

Kantukku hilang, tetapi harus kupaksa untuk tidur karena masih tengah malam. Beberapa menit kemudian aku merasa ada tangan yang meraba bagian luar sleeping bagku. Aku menyentakkan tangan dari dalam untuk mengusir tangan usil yang kukira itu kerjaan bang Sadox, bang Ode atau Dadang untuk menakut-nakuti. Kemudian bang Sadox berteriak pelan kepada orang yang merabanya. Aku berpikir, mungkin bang Ode atau Dadang yang ngerjain dia karena kejadian barusan. Berselang beberapa saat, tangan usil itu kembali menggerayangi bagian luar sleeping bagku. Aku kembali mengusirnya dari dalam sleeping bag. Ketiga orang tentara itu kembali berisik, sepertinya mereka juga merasakan hal yang sama. Mungkin mereka saling ngerjain, pikirku. Dan aku juga menjadi korban kejahilan salah satu dari mereka. Terakhir, tangan jahil itu kembali merabaku. Kali ini tangan itu meraba bagian wajah hingga mulut. Aku meniupkan udara untuk mengusir tangan jahil itu agar menjauh dari wajahku. Setelah itu tidak ada lagi tangan jahil yang menggerayangi.

Akhirnya aku bisa tertidur. Namun, tidak benar-benar lelap. Beberapa kali aku terbangun. Rintik hujan masih terdengar dari luar, semakin pagi udara semakin dingin. Aku meringkuk untuk sedikit menghalau dingin. Hingga subuh menjelang, aku masih berusaha terlelap. Sementara di bawah rintik hujan yang tinggal satu-satu, di antara tanaman cabai setinggi lutut, wanita itu masih membelakangi kami.
***

Pagi-pagi bang Sadox seperti kesurupan memarahi aku. “Hei, Ardi, rambut kamu itu dipotong jangan seperti itu. Seram sekali itu,” sulutnya.

Aku yang nggak ngerti apa yang terjadi cuma bengong. “Emang kenapa bang?” tanyaku.

“Iya, gara-gara rambutmu itu aku mimpi buruk,” katanya. Kami semua tertawa terkekeh mendengar pengakuan bang Sadox.

“Kok iso?” Darumas bertanya.

Bang Heriyana kemudian memotong pertanyaan Darumas.

“Jadi, kenapa kamu semalam teriak, Dox?” tanya bang Heriyana disela-sela menikmati sarapan mie instan rebusnya.

“Jadi ceritanya gini,” bang Sadox memulai ceritanya. Kami mengambil posisi mendengarkan. “Saya semalam mimpi ada cewek yang datang. Dia pakai jilbab warna hijau muda, terus dia tidur di sini juga bareng sama kita. Pas tidur itu, aku mimpi. Jadi mimpi di dalam mimpi lah ceritanya. Di mimpi itu aku bangun. Pas aku bangun si cewek itu nggak ada. Kalian semua juga nggak ada, cuma aku yang ada di sini.

Ternyata kalian semua jatuh di bawah. Dadang di sebelah jurang, Ode di sana, Daru di sana, bang Heri di situ. Nah, Si Ardi ini juga jatuh di bawah dipan ini. Aku liat rambut dia jadi mengembang besar sekali kayak edi brokoli. Terus, aku panggil lah dia. ‘Hei Ardi, kenapa rambut kamu itu?’ Dia tidak jawab. Aku panggil lagi. ‘Hei Ardi.. ardi..'" Waktu dia ngelinguk, mukanya pucat, matanya melotot hitam. Aku teriaak. Aaaaarrrrgggghhhh!!! Ternyata sampai kebawa nyata,” kisahnya. “Makanya rambut kamu dipotong, bikin orang mimpi buruk saja,” lanjutnya.

“Hahahaha... gakpapa bang, biar yang laen juga mimpi buruk,” candaku.

“Jadi cewek tadi itu kemana?” tanya bang Dadang.

“Oya, cewek itu berdiri di situ (menunjuk ke beberapa pohon cabe yang sengaja ditanam di pinggir gubug),” jelas bang Sadox.

****

Saat pulang kami bertemu dengan anak-anak desa Fahudu yang ikut membantu orangtua mereka memanen buah pala. Kebetulan sekali mereka bersedia ketika kami minta untuk mengantar sampai ke jalan besar, karena bapak Yamin yang kemarin janji akan menjemput kami tidak datang. Mungkin dia juga bingung mencari lokasi kami karena jauh dari tempat dimana kami berpisah kemarin.
Di tengah perjalanan turun, bang Sadox mengingatkan kami tentang sesuatu yang akhirnya membuat bulu kuduk berdiri.

Foto bersama anak-anak dusun Fahudu
dok. Darumas

“Semalam siapa sih yang ngeraba-ngeraba,” tanya bang Sadox.

“Eh iya. Aku juga diraba-raba. Berapa kali tu ya?” sambut bang Ode sambil mengingat-ingat kejadian semalam.

“Aku juga, sampe tangannya ngeraba mukaku,” aku menimpali.

“Aku juga tuh. Kirain Sadox yang nakut-nakuti abis dia teriak-teriak,” tambah bang Dadang.

“Kalian ngomong apa sih, raba-raba. Jangan-jangan kalian saling grepe-grepean. ” ujar Darumas.

“Jadi semalam abis Sadox teriak, ada yang grepe-grepe. Gak tau siapa, aku kira mereka-mereka ini aja yang jail,” kisah bang Dadang.

“Saya nggak tuh. Darumas juga enggak,” kata bang Heriyana. “Makanya sebelum tidur nyanyi Doa TNI biar gak diganggu setan,” tambah bang Heri.

“Iya, semalam diajak nyanyi pada gak mau sih,” ujar Darumas.

Sampai di rumah pak Lurah Mado, beberapa orang yang mengetahui rencana kami untuk menginap di hutan pulau Hiri menyapa. “Beneran nginap di atas pak? Kok berani?” tanya seseorang di antara mereka. Sementara kami masih bertanya-tanya tangan siapa yang meraba-raba kami semalam.

****

Isi Blognya ini ....

Tayangan

Cari Blog Ini

Teman-teman